Journal of Medical Laboratory Technology
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora
<p data-start="78" data-end="511"><strong data-start="78" data-end="137">Tekno Labmed (Journal of Medical Laboratory Technology)</strong> is a peer-reviewed scientific journal managed by the Department of Medical Laboratory Technology, Poltekkes Kemenkes Medan, Indonesia. This journal serves as a platform for researchers, lecturers, practitioners, and students to publish original research articles, literature reviews, and case studies in the field of medical laboratory technology and laboratory medicine.</p> <p data-start="513" data-end="771">The scope of the journal covers <strong>hematology, clinical chemistry, microbiology, parasitology, immunoserology, molecular biology, toxicology, laboratory management,</strong> as well as innovation and application of laboratory technology in medical and health sciences.</p> <p data-start="773" data-end="978">Tekno Labmed is published twice a year, in June and December, and implements a double-blind peer-review process to ensure the scientific quality, credibility, and integrity of every published manuscript.</p> <p data-start="980" data-end="1273">As an open-access journal, Tekno Labmed provides free and unrestricted access to all published articles without any submission or publication fees, reflecting its commitment to supporting the dissemination of scientific knowledge and advancing the development of medical laboratory technology.</p>POLTEKKES KEMENKES MEDANen-US Journal of Medical Laboratory TechnologyValidasi Pseudotrombositopenia Akibat Edta: Tinjauan Kasus Tentang Metode Laboratorium Dan Bioetika Islam
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2906
<p>Pseudotrombositopenia (PTCP) akibat EDTA merupakan artefak <em>in vitro</em> yang menghasilkan hitung trombosit yang secara keliru rendah akibat penggumpalan trombosit di dalam tabung pengambilan sampel; apabila tidak dikenali, kondisi ini dapat menyebabkan transfusi yang tidak perlu, penundaan operasi, atau pemberian terapi imunosupresif yang tidak tepat. Tinjauan kritis ini mengkaji sebuah laporan kasus yang telah dipublikasikan sebelumnya mengenai seorang laki-laki berusia 56 tahun yang menjalani penilaian pra-operasi dengan hitung trombosit yang sangat rendah tanpa manifestasi perdarahan dan disertai penggumpalan trombosit 3+ pada apusan darah tepi; pemeriksaan ulang menggunakan natrium sitrat 3,2% meningkatkan hitung trombosit menjadi 112,2×10³/µL. Menggunakan kerangka enam komponen (indikasi klinis, prinsip metode, jenis spesimen, metrik kinerja, algoritma interpretasi, serta kritik dan rekomendasi), penulis menganalisis tiga pendekatan konfirmasi, yaitu tinjauan apusan darah tepi, penggantian antikoagulan dengan natrium sitrat atau heparin, dan hitung trombosit manual menggunakan metode <em>Rees-Ecker</em>. Hitung impedansi otomatis efisien untuk skrining rutin tetapi keliru mengklasifikasikan agregat trombosit; tinjauan apusan darah tepi merupakan langkah verifikasi penting berbiaya rendah; pemeriksaan dengan natrium sitrat, disertai koreksi pengenceran 1,1, dapat mengonfirmasi sebagian besar kasus, sedangkan hitung manual <em>Rees-Ecker</em> berfungsi sebagai pemeriksaan rujukan akhir ketika hasil otomatis atau sitrat masih meragukan. Laporan kasus yang ditinjau memiliki keterbatasan yang cukup berarti, termasuk nilai trombosit awal yang dilaporkan tidak konsisten serta ketiadaan rincian mengenai koreksi sitrat, waktu pengambilan sampel, dan gambaran apusan sitrat. Penulis mengusulkan sebuah algoritma verifikasi laboratorium bertingkat dan berpendapat bahwa verifikasi semacam ini sejalan dengan prinsip keselamatan pasien serta konsep etika Islam tabayyun (verifikasi sebelum bertindak) dan hifz al-nafs (perlindungan jiwa).<br /><br /></p>Siti Rodiatul MunawwarohAdela Citra Novita SariMunyati SulamCharlisa Yosiana Bandaso
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-08-312026-08-31201Ananalisa Kadar Vitamin C Pisang Barangan (Musa acuminata linn.) Pada Tiga Tingkat Kematangan
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2914
<p>Buah pisang barangan <em>(Musa acuminata Linn.) </em>merupakan salah satu buah yang banyak dikonsumsi masyarakat dan mengandung vitamin C yang bermanfaat sebagai antioksidan untuk menjaga daya tahan tubuh. Jenis dan desain penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif, yang bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C pada buah pisang barangan mentah, mengkal, dan matang dari buah pisang yang berbeda. Sampel diperoleh dari pedagang di Pasar Bengkok Aksara, Kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini dilakukan dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 265 nm menggunakan vitamin C sebagai larutan standar. Hasil penelitian menunjukkan persamaan regresi linier y = 0,0478x + 0,083 dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,9894. Kadar vitamin C pada pisang mentah sebesar 3,7394 ppm, pisang mengkal sebesar 16,8619 ppm, dan pisang matang sebesar 32,4895 ppm. Hasil ini menunjukkan bahwa kadar vitamin C meningkat seiring bertambahnya tingkat kematangan buah. Buah pisang barangan matang memiliki kadar vitamin C tertinggi sehingga berpotensi menjadi sumber antioksidan alami yang baik bagi kesehatan.</p>ImeldaDigna Renny Panduwati
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-08-312026-08-31201Identifikasi Bakteri Klebsiella pneumoniae pada Pasien Infeksi Saluran Kemih
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2640
<p>Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi yang sering ditemukan pada masyarakat dan umumnya disebabkan oleh bakteri. Gejala Infeksi Saluran Kemih (ISK) biasanya mencakup nyeri di bagian perut bawah (suprapubik), sakit saat buang air kecil (disuria), terdapat darah dalam urine (hematuria), keinginan mendadak untuk segera buang air kecil (urgensi), serta kesulitan atau rasa sakit saat buang air kecil (stranguria). <em>Klebsiella pneumoniae</em> merupakan salah satu penyebab ISK yang memiliki faktor virulensi, seperti kapsul polisakarida, fimbriae, serta kemampuan adhesi dan pembentukan biofilm yang memugkinkannya melekat pada epitel saluran kemih, berkembang biak dan menghindari sistem imun. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah pasien infeksi saluran kemih di RSU Bunda Thamrin Medan disebabkan oleh bakteri <em>Klebsiella pneumoniae.</em> Jenis penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif dengan populasi seluruh pasien yang melakukan pemeriksaan urine suspek infeksi saluran kemih di RSU Bunda Thamrin Medan. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 55 pasien terduga ISK pada bulan Februari 2026. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi di RSU Bunda Thamrin Medan. Prosedur penelitian ini meliputi pembiakan pada media Mac Conkey Agar (MCA), Pewarnaan Gram, serta Identifikasi menggunakan alat Vitek 2 Compact. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 55 sampel urine, ditemukan <em>Klebsiella pneumoniae</em> pada 7 sampel (13%). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa <em>Klebsiella pneumoniae</em> merupakan salah satu bakteri penyebab ISK, namun jumlah tidak dominan dibandingkan dengan bakteri lain.</p> <p> </p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Identifikasi, Infeksi Saluran Kemih, <em>Klebsiella pneumoniae</em></p>Novri Esteria Simbolon
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-08-312026-08-31201Identifikasi Bakteri Pada Pasien Penderita Infeksi Saluran Kemih
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2643
<p>Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri pada saluran kemih dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Angka kejadian ISK cukup tinggi, terutama pada perempuan, serta dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kebersihan diri, penggunaan kateter, dan penyakit penyerta. RSU Bunda Thamrin Medan merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang menangani kasus ISK dengan karakteristik pasien yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bakteri penyebab infeksi saluran kemih pada pasien di RSU Bunda Thamrin Medan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian berupa 22 sampel urin pasien yang diduga mengalami ISK. Pemeriksaan dilakukan melalui kultur urin menggunakan media MacConkey Agar dan CLED Agar, dilanjutkan dengan pewarnaan Gram serta identifikasi bakteri menggunakan alat VITEK 2 Compact. Data dianalisis secara deskriptif dengan menghitung frekuensi dan persentase masing-masing jenis bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri yang paling banyak ditemukan adalah <em>Escherichia coli</em> sebanyak 8 sampel (36,36%), diikuti oleh <em>Klebsiella pneumoniae</em> sebanyak 5 sampel (22,73%) dan <em>Acinetobacter baumannii</em> sebanyak 2 sampel (9,09%). Selain itu, ditemukan bakteri lain seperti <em>Enterobacter cloacae complex</em>, <em>Pseudomonas aeruginosa</em>, <em>Enterococcus faecalis</em>, <em>Citrobacter freundii</em>, <em>Staphylococcus hominis</em>, <em>Staphylococcus epidermidis</em>, dan <em>Aeromonas sobria</em> masing-masing sebanyak 1 sampel (4,55%). Sebagian besar bakteri yang ditemukan merupakan bakteri Gram negatif. Disimpulkan bahwa Infeksi saluran kemih pada pasien di RSU Bunda Thamrin Medan didominasi oleh bakteri Gram negatif, terutama <em>Escherichia coli</em> sebagai penyebab utama. Pemeriksaan kultur urin dan identifikasi bakteri sangat penting dalam menentukan diagnosis dan terapi yang tepat. Disarankan agar dilakukan pemeriksaan mikrobiologi secara rutin serta edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan ISK.</p>Reynova PakpahanSuryani M Florence Situmeang
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-08-312026-08-31201Gambaran Efektivitas Infusa Akar Kuning (Coscinium fenestratum) Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Mencit Diabetik
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2645
<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Kadar glukosa darah yang tinggi merupakan ciri khas diabetes melitus, suatu gangguan metabolisme. Akar kuning (<em>Coscinium fenestratum</em>), yang mengandung senyawa bioaktif dengan karakteristik antidiabetes, adalah salah satu tanaman obat yang menjanjikan sebagai pengobatan tambahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana infusa akar kuning mempengaruhi kadar gula darah pada penderita diabetes (Mus musculus). Penelitian ini menggunakan desain post-test-only dan pendekatan deskriptif eksperimental. Empat kelompok yang terdiri dari empat puluh mencit jantan dibuat mencit normal tanpa infusa, mencit normal dengan infusa, mencit diabetes tanpa infusa, dan mencit diabetes dengan infusa. Glukometer digunakan untuk memantau glukosa darah setelah pemberian infusa akar kuning secara oral selama 14 hari. Analisis univariat digunakan untuk memeriksa data. Rata-rata kadar glukosa darah ditemukan sebesar 73,1 mg/dL pada mencit normal tanpa infusa, 98,6 mg/dL pada mencit normal dengan infusa, 192,5 mg/dL pada mencit diabetes tanpa infusa, dan 166,1 mg/dL pada mencit diabetes dengan infusa. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun kadar glukosa darah pada mencit normal tetap berada dalam kisaran normal, infusa akar kuning menurunkan kadar glukosa darah pada mencit diabetes.</span></span></span></span></p>Amanda AmandaI Gede Andika SukaryaSulthon Abdul Aziz
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-08-312026-08-31201Uji Daya Hambat Handsanitizer terhadap Bakteri Escherichia coli
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2770
<p>Handsanitizer merupakan sediaan antiseptik yang digunakan untuk mengurangi jumlah mikroorganisme pada tangan tanpa menggunakan air. Salah satu bakteri yang dapat dihambat pertumbuhannya oleh handsanitizer berbasis alkohol adalah Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat beberapa handsanitizer berbasis alkohol terhadap pertumbuhan Escherichia coli serta membandingkan daya hambat antarproduk. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan metode difusi cakram (Kirby–Bauer). Sampel yang digunakan yaitu handsanitizer Aseptic Gel, Nuvo, dan Dettol. Pengujian dilakukan terhadap <em>Escherichia coli</em> ATCC 25922 pada media Mueller Hinton Agar (MHA) dengan tiga kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann–Whitney menggunakan koreksi Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh handsanitizer mampu menghambat pertumbuhan <em>Escherichia coli</em> yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat. Rata-rata diameter zona hambat Aseptic Gel sebesar 7,0 mm, Nuvo 7,5 mm, dan Dettol 7,3 mm. Ketiga produk termasuk dalam kategori daya hambat sedang. Uji Kruskal–Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara keseluruhan (p=0,012; p<0,05), namun uji Mann–Whitney dengan koreksi Bonferroni menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada setiap pasangan perlakuan. Disimpulkan bahwa ketiga handsanitizer memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dengan kategori daya hambat sedang dan tidak menunjukkan perbedaan daya hambat yang signifikan antarproduk.</p>gresyapasaribu gresyaSuryani M. Florence Situmeang
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-08-312026-08-31201Perbandingan Kadar Vitamin C Pada Seduhan Teh Bunga Telang (Clitoria ternatea) Segar dan Kering Dengan Metode Titrasi Iodimetri
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2916
<p>Bunga telang (<em>Clitoria ternatea</em>) merupakan tanaman herbal yang banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai minuman kesehatan karena mengandung senyawa antioksidan dan vitamin C yang bermanfaat bagi tubuh serta dapat dikonsumsi dalam bentuk segar maupun kering sebagai seduhan teh herbal. Penelitian ini bertujuan melakukan percobaan untuk membandingkan kadar vitamin C pada seduhan teh bunga telang segar dan kering menggunakan metode titrasi iodimetri. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain penelitian eksperimental menggunakan sampel bunga telang segar dan kering masing-masing sebanyak 2 gram yang diseduh pada suhu 60°C selama 10 menit dan 15 menit. Hasil penelitian menunjukkan kadar vitamin C pada bunga telang segar sebesar 0,040% pada waktu 10 menit dan 0,064% pada waktu 15 menit, sedangkan pada bunga telang kering sebesar 0,052% pada waktu 10 menit dan 0,081% pada waktu 15 menit. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin lama waktu penyeduhan maka kadar vitamin C cenderung meningkat, serta kadar vitamin C pada bunga telang kering lebih tinggi dibandingkan bunga telang segar.</p>anisaDigna Renny Panduwati
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-08-312026-08-31201Visualisasi Eritrosit, Leukosit Dan Trombosit Pada Sediaan Apusan Darah Tepi Menggunakan Ekstrak Bunga Kencana Ungu
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2963
<p>Giemsa merupakan pewarnaan standard yang sering digunakan untuk mengamati morfologi sel darah dalam pemeriksaan sediaan apusan darah tepi (SADT) dalam meminimalisir penggunaan pewarna sintetik, maka diperlukan pewarna alami alternatif seperti ekstrak dari bunga kencana ungu (Ruellis simplex) yang mengandung antosianin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kualitas pewarnaan SADT dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi ekstrak bunga kencana ungu. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksperimen dengan metodologi penelitian kualitatif deskriptif, yang hanya melampirkan visualisasi dari setiap konsentrasi yang dievaluasi di Laboratorium Terpadu Politeknik Kesehatan Medan. Bunga kencana ungu yang dikumpulkan dari lingkungan pemukiman daerah Pancur Batu dijadikan sebagai sampel penelitian. Dalam penelitian ini, penyesuaian konsentrasi dilakukan menggunakan metode ekstraksi infusa. Hasil dievaluasi melalui penglihatan mikroskopis. Temuan penelitian ini menghasilkan pewarnaan yang menunjukkan bahwa eritrosit tidak dapat diwarnai pada konsentrasi 50%, temuan lanjutannya menghasilkan 75% yang tidak bisa terwarnai hingga sampai temuan 100% juga demikian, meskipun dalam proses tersebut bahwa morfologinya sudah terlihat jelas. Temuan lainnya bahwa pada trombosit dan leukosit tidak dapat terwarnai, sehingga dapat disimpulkan bahwa variasi konsentrasi ekstrak bunga kencana ungu belum dapat digunakan untuk melakukan pewarnaan apusan darah tepi sebagai alternatif Giemsa.</p>Karolina br Surbaktisofiatul isnaini huzali
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-08-312026-08-31201Identification Of Tetrahydrocannabinol In The Urine Of Male Adolescents At A Vocational High School In Medan City
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2928
<p><em>Indonesia faces significant challenges in controlling narcotics, particularly marijuana (Cannabis sativa), which has the highest prevalence of use at 57.11%. Adolescents are a demographic highly vulnerable to drug exposure due to the transitional phase of identity formation and the influence of their social environment. This study aimed to identify the presence of Tetrahydrocannabinol in urine samples from male adolescents at a vocational high school (SMK) in Medan and to describe the respondents' knowledge, attitudes, and behaviors regarding drugs. A descriptive qualitative research design was employed. The study involved 55 students who consented to provide urine samples. Laboratory analysis was conducted using the rapid test cassette method based on the principle of competitive immunoassay at the Toxicology Laboratory of the Medical Laboratory Technology Department, Poltekkes Kemenkes Medan. The finding that three male adolescent urine samples tested positive for Tetrahydrocannabinol indicates marijuana use at the time of the study</em>, w<em>hile the majority of respondents demonstrated good knowledge, attitudes, and behaviors regarding drugs, three respondents lacked adequate knowledge, held unfavorable attitudes, and exhibited behaviors that placed them at risk for drug abuse.</em></p> <p> </p>Regina Hagata BarusSri Widia Ningsih
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-08-312026-08-31201Visualisasi Sel Darah Pada Sediaan Apus Menggunakan Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea)
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2917
<p><span class="fontstyle1">Bunga telang mengandung pewarna antosianin sehingga berpotensi digunakan sebagai alternatif<br>Giemsa. Pada Giemsa terdapat zat warna sintetik methylene blue dan eosin yang sulit terurai di<br>lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode eksperimen, yang<br>bertujuan untuk mengamati efektivitas infusa bunga telang </span><span class="fontstyle3">(Clitoria ternatea) </span><span class="fontstyle1">dalam mewarnai Sediaan<br>Apusan Darah Tepi (SADT). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Politeknik Kemenkes<br>Medan. Sampel pada penelitian ini diambil di Perumahan Rorinata, Kecamatan Tanjung Morawa.<br>Infusa dibuat dengan variasi konsentrasi 25%, 50%, dan 75% serta variasi pH 5, 7, dan 9, kemudian<br>digunakan untuk pewarnaan SADT dengan Giemsa sebagai kontrol. Hasil pewarnaan diamati secara<br>mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi 25%, 50% dan 75% dengan<br>variasi pH 5 dan 7 mampu memberikan warna pada sel eritrosit dengan morfologi eritrosit paling jelas<br>pada konsentrasi 50% pH 7. Pada keseluruhan konsentrasi dan variasi pH, sel lekosit dan trombosit<br>tidak dapat terwarnai sehingga dapat disimpulkan bahwa variasi konsentrasi dan pH ekstrak<br>bunga telang belum dapat digunakan untuk melakukan pewarnaan apusan darah tepi sebagai alternatif<br>Giemsa.</span></p>Karolina br Surbakti
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-09-012026-09-01201Perbedaan Kadar Hemoglobin pada Komponen Whole Blood Sebelum dan Sesudah Disimpan Selama 5 Hari di UTD PMI Kota Medan
https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2978
<p> </p> <p><em>Blood storage plays a crucial role in maintaining blood availability for transfusion, but it can impact the quality of blood components, including hemoglobin levels. This study aimed to determine the differences in hemoglobin levels in whole blood components before and after 5 days of storage at the Indonesian Red Cross (PMI) UTD in Medan City. The study used an observational analytical design with a quantitative approach to 41 whole blood samples selected using a simple random sampling technique. Hemoglobin levels were measured using a Sysmex XP-300 Hematology Analyzer. Data analysis was performed using the Shapiro–Wilk normality test and paired sample t-test. The results showed that the average hemoglobin level increased from 13.422 g/dL before storage to 14.598 g/dL after storage. The paired sample t-test showed a p-value <0.001, indicating a significant difference between hemoglobin levels before and after storage. The 8.76% increase in hemoglobin levels is suspected to be related to erythrocyte hemolysis during storage. It was concluded that 5 days of whole blood storage causes an increase in hemoglobin levels, so storage time and conditions need to be considered to maintain blood quality and the accuracy of laboratory test results.</em></p>Cindy Panjaitan
Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology
2026-09-082026-09-08201