https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/issue/feed Journal of Medical Laboratory Technology2026-02-28T00:00:00+07:00Digna Renny Panduwati, M. Scdignarennytlm@gmail.comOpen Journal Systems<p data-start="78" data-end="511"><strong data-start="78" data-end="137">Tekno Labmed (Journal of Medical Laboratory Technology)</strong> is a peer-reviewed scientific journal managed by the Department of Medical Laboratory Technology, Poltekkes Kemenkes Medan, Indonesia. This journal serves as a platform for researchers, lecturers, practitioners, and students to publish original research articles, literature reviews, and case studies in the field of medical laboratory technology and laboratory medicine.</p> <p data-start="513" data-end="771">The scope of the journal covers <strong>hematology, clinical chemistry, microbiology, parasitology, immunoserology, molecular biology, toxicology, laboratory management,</strong> as well as innovation and application of laboratory technology in medical and health sciences.</p> <p data-start="773" data-end="978">Tekno Labmed is published twice a year, in June and December, and implements a double-blind peer-review process to ensure the scientific quality, credibility, and integrity of every published manuscript.</p> <p data-start="980" data-end="1273">As an open-access journal, Tekno Labmed provides free and unrestricted access to all published articles without any submission or publication fees, reflecting its commitment to supporting the dissemination of scientific knowledge and advancing the development of medical laboratory technology.</p>https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2509HUBUNGAN VARIASAI SUHU TERHADAP KADAR VITAMIN C DALAM WORTEL2026-01-15T15:48:25+07:00Digna Renny Panduwatidignarennytlm@gmail.comSilvi Ela Tasya PAelatasyasilvi@gmail.com<p>Sayuran merupakan sumber nutrisi penting yang berperan dalam memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral tubuh, salah satunya adalah wortel yang mengandung vitamin C. Vitamin C bersifat mudah larut dalam air serta tidak stabil terhadap panas dan oksidasi, sehingga proses pengolahan berbasis pemanasan dapat memengaruhi kadarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan variasi suhu pemanasan terhadap kadar vitamin C dalam wortel. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan memberikan perlakuan pemanasan pada sampel wortel pada suhu 50°C dan 70°C. Setelah perlakuan, sampel dianalisis untuk menentukan kadar vitamin C menggunakan metode analisis laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin C pada wortel yang dipanaskan pada suhu 50°C sebesar 0,028%, sedangkan pada suhu 70°C sebesar 0,017%. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan suhu pemanasan menyebabkan penurunan kadar vitamin C dalam wortel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa suhu pemanasan berpengaruh terhadap stabilitas vitamin C pada wortel, sehingga perlu diperhatikan dalam proses pengolahan pangan untuk mempertahankan kandungan gizinya.</p>2026-02-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technologyhttps://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2510UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK KULIT BUAH SALAK (Salacca zalacca) TERHADAP BAKTERI Pseudomonas aeruginosa2026-01-20T07:57:08+07:00Suryani SitumeangSitumeangsuryani@gmail.comElfina Alfionita Br Sembiringelvinasembiring6@gmail.comSri Widia Ningsihwidianingsih29@gmail.com<p>Penyakit infeksi merupakan penyakit yang diakibatkan oleh mikroorganisme sebagai respon tubuh akibat stimulasi dan sistem pertahanan tubuh. Antibiotik merupakan obat untuk mengatasi infeksi tersebut, namun banyaknya masalah resistensi antibiotik yang merupakan konsekuensi dari penggunaan antibiotik yang keliru dan perkembangan dari mikroorganisme. Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan ide baru untuk membuat antibakteri dari bahan alami. Salah satu tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai antimikroba adalah salak.</p> <p>Buah salak merupakan tanaman yang memiliki beragam manfaat bagi manusia, tidak hanya daging buahnya tetapi juga kulitnya. Kulit buah salak (<em>Salacca zalacca</em>) mengandung senyawa aktif berupa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan fenol yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak kulit salak (<em>Salacca zalacca</em>) dengan menghambat pertumbuhan bakteri <em>Pseudomonas aeruginosa</em>. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2025. Kosensentrasi ekstrak yang digunakan digunakan yaitu 75%, 80%, 85% dan 90%. Kontrol positif yang digunakan adalah tetracycline, sementara kontrol negatif menggunakan aquadest steril, dan uji aktivitas salak mampu menghambat pertumbuhan pseudomonas aeruginosa dengan diameter zona hambat rata-rata 5,8 mm (75%), 6,5 mm (80%), 7,5 mm (85%) dan 8,9 mm (90%), dimana semakin tinggi konsentrasi maka semakin besar zona hambar yang dihasilkan.</p>2026-02-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technologyhttps://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2515ANALISA KADAR BILANGAN PEROKSIDA PADA MINYAK GORENG YANG DIGUNAKAN PEDAGANG GORENGAN 2026-02-12T08:03:22+07:00Dea Yolandadeayolanda2010@gmail.comDign Renny Panduwatidignarennytlm@gmail.com<p>Minyak goreng merupakan media penghantar panas pada proses menggoreng. Salah satu parameter mutu minyak adalah bilangan peroksida yang meningkat karena oksidasi asam lemak tak jenuh. Penelitian eksperimental laboratorium ini bertujuan mengetahui kadar bilangan peroksida pada minyak goreng yang digunakan pedagang gorengan pada penggorengan terakhir. Empat sampel diambil dan dianalisis dengan titrasi iodometri di Laboratorium Analisa Makanan dan Minuman Poltekkes Medan pada periode November 2022–Juni 2023. Hasil: Pedagang 1 = 11,4 mek O2/kg; Pedagang 2 = 14,5 mek O2/kg; Pedagang 3 = 7,2 mek O2/kg; Pedagang 4 = 12,4 mek O2/kg. Tiga dari empat sampel melebihi batas SNI 01-3741-2013 (10 mek O2/kg).</p>2026-02-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technologyhttps://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2517POLARESISTENSI ANTIBIOTIK TERHADAP BAKTERI YANG DIISOLASI DARI PASIEN SEPSIS DI LABORATORIUM KLINIK MEDAN2026-02-06T14:34:52+07:00Marsella Amitesya Sembiringmarsellaamitesyasmb@gmail.comSuryani M F SitumeangSitumeang.suryani@gmail.comFebri Sembiringfebrysembiring@gmail.comDewi Setyawatibudewisetiyawati@gmail.com<p>Sepsis adalah kondisi klinis akut yang disebabkan oleh serangan mikroorganisme pada darah manusia. Sepsis menyebabkan respon imun tubuh terhadap infeksi bereaksi berlebihan. Sepsis dapat disebabkan oleh beberapa infeksi berbeda, termasuk malaria, aliran darah, diare, infeksi saluran pernapasan bawah, demam berdarah, dan penyakit inflamasi sistemik. Hal ini terjadi ketika tubuh kita memberikan respon imun yang terlalu kuat terhadap infeksi bakteri. Bakteri yang menyebabkan sepsis yaitu <em>Acinetobacter baumanii</em>, <em>Klebsiella pneumonia</em>, dan <em>Escherichia coli</em>, <em>Staphylococcus sp.</em>, <em>Enterococcus sp.</em>, dan <em>Steptococcus sp</em>. Pola resistensi bakteri adalah deskripsi mengenai persentase tertinggi bakteri penyebab infeksi disertai hasil uji sensitivitas terhadap antibiotika. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pola resistensi antibiotik terhadap bakteri yang diisolasi dari pasien sepsis dan untuk menentukan antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada pasien sepsis. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah dekskriptif kuantitatif dengan metode penelitian eksploratif. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Januari-Juni 2024 di Laboratorium Klinik Bunda Thamrin Medan dengan 120 sampel. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil yaitu dari 120 sampel darah sepsis yang di periksa di Laboratorium Mikrobiologi RSU Bunda Thamrin Medan didapatkan bakteri <em>Escherichia coli </em>sebagai penyebab sepsis yang paling banyak dengan presentase 20,83%. Dari semua bakteri masih memiliki sensitivitas yang baik terhadap <em>Tigecyeline, Trimetropim/ sulfamethoxazol, Meropenem</em>, dan <em>Amiikacin </em>akan tetapi sensitivitas bakteri tersebut terhadap <em>Amoxicillin </em>sudah tidak baik.</p>2026-02-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technologyhttps://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2521KADAR KOLESTEROL TOTAL PADA PRIA PEROKOK AKTIF DI ASAHAN 2026-02-19T08:55:31+07:00Karolina br Surbaktikarolinasurbaktitlm@gmail.comDina Aulia Nasutiondinaaulia@gmail.com<p>Merokok merupakan kebiasaan yang memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan, terutama berkaitan dengan gangguan metabolisme lipid dan peningkatan kadar kolesterol total. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kadar kolesterol total pada pria perokok aktif di Kelurahan Kisaran Barat Kabupaten Asahan. Pemeriksaan kadar kolesterol total pada penelitian ini dilakukan di Laboratorium RSUD Haji Abdul Manan Simatupang Kisaran. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Jumlah responden sebanyak 30 orang yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pria berusia 30-50 tahun dan merupakan perokok aktif dengan durasi merokok lebih dari 10 tahun. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan laboratorium menggunakan metode CHOD-PAP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 16,7% sampel memiliki kadar kolesterol total normal, dan 83,3 % memiliki kadar tinggi. Peningkatan kadar kolesterol total cenderung terjadi pada kelompok usia lebih tua, konsumsi rokok >10 batang/hari, serta pola makan yang tidak baik. Dapat disimpulkan bahwa kebiasaan merokok berkontribusi terhadap tingginya kadar kolesterol total, yang menjadi faktor risiko penyakit kronis. Pemeriksaan kolesterol secara rutin dan perubahan gaya hidup sehat perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan.</p>2026-02-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technologyhttps://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2522AMBARAN JAMUR Candida sp PADA URINE PENDERITA INFEKSI SALURAN KEMIH DI RUMAH SAKIT KOTA MEDAN2026-02-19T09:00:40+07:00Dewi Setiyawatibudewisetiyawati@gmail.comAdinda Putriadinda.putriiii2222@gmail.comSuryani M F SitumeangSitumeang.suryani@gmail.com<p>Infeksi Saluran Kemih merupakan infeksi yang disebabkan karena adanya perkembang biakan mikroorganisme didalam saluran kemih bagian atas dan bagian bawah yang terdiri dari ginjal, ureter, uretra, serta kandungan kemih. Salah satu jenis mikroorganisme yang dapat ditemukan dalam kasus ini yaitu jamur <em>Candida sp.</em> yang dimana jamur <em>Candida sp</em> ini merupakan flora normal yang tumbuh pada rongga mulut, traktus genitalia wanita, kulit dan kuku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi adanya jamur <em>Candida sp</em>. pada urine penderita Infeksi Saluran Kemih di Rumah Sakit Kota Medan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah pasien rawat inap penderita Infeksi Saluran Kemih di RSU Bunda Thamrin Medan pada tahun 2024 sebanyak 20 sampel. Sampel urine diperiksa dengan cara pembiakan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) selama 5-7 hari kemudian dilanjut ke pewarnaan gram setelah itu diidentifikasi menggunakan alat <em>Vitek 2 compact.</em> Hasil penelitian menunjukkan dari 20 sampel, 5 sampel diantaranya ditemukan pertumbuhan koloni jamur pada media SDA. 4 sampelnya dinyatakan positif <em>Candida albicans </em>dan 1 sampel dinyatakan positif <em>Candida tropicalis</em>. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa <em>Candida sp</em> dapat menyebabkan Infeksi Saluran kemih.</p>2026-02-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technologyhttps://ojs.poltekkes-medan.ac.id/labora/article/view/2523HUBUNGAN INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS (STH) DENGAN PERSONAL HYGIENE PADA SISWA SD NEGERI 060837 MEDAN2026-02-20T12:46:23+07:00Suparnihajjahsuparni@gmail.comMega Tasya Hutahaeanmegatasyahhth@gmail.comSuryani MF Situmeangsitumeang.suryani@gmail.comLiza Mutializa.mutia1009@gmail.com<p><em>Soil Transmitted Helminth </em>merupakan salah satu jenis nematoda usus yang sering menginfeksi manusia melalui tanah sebagai perantaranya. Infeksi kecacingan di Indonesia paling banyak terjadi pada anak-anak yang berusia dibawah 12 tahun. Anak-anak berusia 2-9 tahun yaitu kelompok balita dan siswa Sekolah Dasar sangat rentan terhadap penyakit cacingan. <em>Personal hygiene </em>merupakan faktor penyebab terjadinya kecacingan. <em>Personal hygiene </em>yang kurang baik pada anak-anak usia Sekolah Dasar dapat menimbulkan berbagai masalah Kesehatan salah satunya ialah kecacingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan infeksi <em>Soil Transmitted</em><em> </em><em>Helminths</em><em> </em>dengan <em>personal</em><em> </em><em>hygiene</em><em> </em>yang terjadi di SD Negeri 060837 kelas 1-3 Medan. Jenis penelitian yang digunakan observasional analitik yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kebiasaan <em>personal hygiene </em>siswa dengan kejadian infeksi STH. Populasi penelitian ini sebanyak 39 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 36 sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1 orang (2.8%) <em>personal hygiene </em>nya kurang baik dan 35 orang (97.2%) <em>personal hygiene </em>nya baik. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil 1 orang (2.8%) positif terinfeksi STH jenis <em>Ascaris lumbricodes </em>dan 35 orang (97.2%) Negatif. Hasil analisis dengan menggunakan uji chi square diperoleh <em>p</em><em> </em>= 0.864 yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna atau signifikan antara Infeksi <em>Soil Transmitted Helminths </em>(STH) dengan <em>Personal Hygiene </em>dikarenakan nilai <em>p </em>> 0.05.</p>2026-02-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Journal of Medical Laboratory Technology