Jurnal Farmasi FARMAKES https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes <p>Jurnal FARMAKES Poltekkes Kemenkes Medan merupakan jurnal yang dikelola oleh Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Medan yang membahas ilmu di bidang farmasi dan kesehatan. Publikasi dilakukan dua kali dalam setahun. Jurnal ini sebagai wadah untuk menuangkan hasil penelitian baik penelitian mahasiswa, dosen, farmasis, maupun tenaga kesehatan lainnya secara konseptual maupun teknis berkaitan dengan ilmu kefarmasian. Jurnal ini menerima artikel dengan kategori: artikel penelitian, <em>review</em> artikel, laporan kasus, studi kasus dan koresponden. Semua artikel yang masuk (<em>submit</em>) akan direview oleh ahlinya sesuai dengan bidangnya masing-masing. </p> Poltekkes Kemenkes Medan en-US Jurnal Farmasi FARMAKES UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH (Piper betle L.) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus epidermidis https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes/article/view/2686 <p>Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Infeksi kulit salah satunya di sebabkan oleh bakteri <em>Staphylococcus epidermidis</em>. <em>Staphylococcus epidermidis</em> merupakan flora normal kulit yang dapat menjadi patogen oportunistik. Untuk menghindari terjadinya resistensi antibakteri sehingga perlu ditemukan solusi alternatif penggunaan bahan alam dan sebagai antibakteri yang digunakan yaitu daun Sirih hijau. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun sirih hijau <em>(Piper betle</em> L.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri <em>Staphylococcus epidermidis</em> dengan metode difusi cakram dan menentukan konsentrasi ekstrak etanol daun sirih hijau yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri <em>Staphylococcus epidermidis</em>. Penelitian menggunakan jenis penelitian eksperimental dengan desain <em>posttest only control group design</em>. Ekstrak dibuat dengan metode <em>Ultrasonic Assisted Extraction</em> (UAE) menggunakan etanol 96%. Uji antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15%, menggunakan gentamisin sebagai kontrol positif dan aquadest sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata zona hambat pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15% berturut-turut sebesar 14,52 mm, 18,72&nbsp; mm, dan 22,82 mm. Gentamisin menghasilkan zona hambat 24,72 mm, sedangkan aquadest tidak menunjukkan zona hambat. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sirih hijau (<em>Piper betle</em> L.) efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri <em>Staphylococcus epidermidis</em> dengan metode difusi cakram. Konsentrasi ekstrak etanol daun sirih hijau yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri <em>Staphylococcus epidermidis</em> adalah konsentrasi 15% dengan rata-rata zona hambat sebesar 22,82 mm.</p> Endang Widya Astuti Ismedsyah Ismedsyah Masniah Masniah Rosnike Merly Panjaitan Copyright (c) 2026 Jurnal Farmasi FARMAKES 2026-09-01 2026-09-01 1 2 EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) MENURUNKAN GULA DARAH PADA TIKUS https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes/article/view/2697 <p>Salah satu tanaman herbal yang secara empiris digunakan masyarakat untuk mengatasi diabetes melitus adalah daun kelor (<em>Moringa oleifera </em>L.) karena kandungan senyawa aktifnya, seperti flavonoid, saponin, tanin yang berpotensi menurunkan kadar gula darah. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui efektivitas Ekstrak Etanol Daun Kelor (EEDK) dalam menurunkan kadar gula darah tikus putih jantan serta mengetahui pada dosis berapa yang paling efektif. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan desain pre-test dan post-test control group design. Sebanyak 15 ekor tikus putih jantan dibagi menjadi lima kelompok: kontrol negatif (CMC 0,5%), kontrol positif (glimepirid), dan tiga kelompok uji dengan dosis ekstrak 200 mg/KgBB, 400 mg/KgBB, dan 600 mg/KgBB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kontrol negatif (CMC 0,5%) persentase penurunannya sebesar 36,94%, kontrol positif (glimepirid) 59,39%, EEDK dosis 200 mg/KgBB 54,90%, EEDK dosis 400 mg/KgBB 53,60%, dan EEDK dosis 600 mg/KgBB 62,32%. Hasil uji <em>One-Way ANOVA </em>menunjukkan nilai p = 0,281 (p &gt; 0,05), yang berarti tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok secara statistik, namun secara klinis EEDK memiliki efektivitas yang setara dengan glimepirid. Kesimpulan penelitian ini adalah Ekstrak Etanol Daun Kelor (<em>Moringa oleifera </em>L.) memiliki efek antidiabetes dengan dosis paling efektif 600 mg/KgBB.</p> Nahwa Ghufriyah Jhonson P Sihombing Lavinur Lavinur Zulfa Ismaniar Fauzi Copyright (c) 2026 Jurnal Farmasi FARMAKES 2026-09-01 2026-09-01 1 2 FORMULASI DAN UJI FISIK SABUN PADAT DARI EKSTRAK DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes/article/view/2710 <p>Daun sirih hijau (Piper betle L.) merupakan tanaman herbal yang mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid, tanin, saponin, polifenol, dan minyak atsiri yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri, antijamur, antioksidan, serta antiseptik. Kandungan senyawa tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan aktif dalam formulasi sediaan kosmetik, salah satunya sabun padat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun sirih hijau dapat diformulasikan menjadi sabun padat serta menentukan konsentrasi ekstrak yang menghasilkan sifat fisik sediaan paling baik. Penelitian menggunakan metode eksperimental laboratorium dengan empat formula, yaitu F0 (tanpa ekstrak), F1 (1%), F2 (3%), dan F3 (5%). Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diformulasikan menjadi sabun padat menggunakan Virgin Coconut Oil (VCO), natrium hidroksida (NaOH), asam stearat, gliserin, natrium lauril sulfat, natrium klorida, dan Oleum Piper betle. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, pH, tinggi busa, stabilitas, iritasi, dan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula menghasilkan sabun padat dengan bentuk yang baik, pH berkisar antara 9,7–10,0 sesuai persyaratan SNI 3532:2016, tinggi busa sebesar 6,8–9,9 cm, serta stabil selama penyimpanan empat minggu tanpa perubahan bentuk, warna, aroma, maupun pH yang bermakna. Seluruh formula juga tidak menimbulkan iritasi pada panelis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sirih hijau berhasil diformulasikan menjadi sabun padat yang memenuhi persyaratan evaluasi fisik dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk kosmetik berbahan alam.</p> <p><strong>Kata kunci</strong>: Formulasi; sabun; stabilitas; daun sirih hijau; ultrasonik.</p> <p><strong><br /></strong> <strong><br /></strong></p> Maria Enjelina Siburian Ismedsyah Ismedsyah Masniah Masniah Masrah Masrah Copyright (c) 2026 Jurnal Farmasi FARMAKES 2026-09-01 2026-09-01 1 2 FORMULASI DAN EVALUASI SABUN PADAT EKSTRAK ETANOL SERAI (Cymbopogon citratus) https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes/article/view/2711 <p>Jenis bahan alam yang kini banyak diteliti menjadi sediaan sabun adalah serai (Cymbopogon citratus).Sabun merupakan produk yang dihasilkan dari reaksi asam lemak dan basa kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak etanol serai yang diperoleh dengan metode maserasi ultrasonik dapat dijadikan sediaan sabun padat dan pada konsentrasi berapa ekstrak etanol serai (Cymbopogon citratus) yang memenuhi persyaratan untuk menjadi sediaan sabun padat. Jenis Penelitian ini eksperimental dan menggunakan rancangan post-test only control group design dengan variasi konsentrasi sabun 2%, 2,5%, dan 3%. Uji organoleptik, homogenitas, stabilitas, pH, tinggi busa, iritasi dan uji hedonik dilakukan untuk mengevaluasi sediaan sabun padat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kental yang dihasilkan dari proses maserasi sebanyak 27.72 gram dan rendemen ekstrak yang diperoleh 17,7%,&nbsp; uji organoleptik pada formula kontrol berwarna putih, formula 2% berwarna putih kekuningan, formula 2,5% berwarna coklat muda dan 3% berwarna coklat tua, memiliki aroma oleum rosae dan serai yang khas. Rata-rata pH sediaan sabun padat pada formula kontrol 9,6 formula 2% (10,8) formula 2,5% (10) dan formula 3% (10,4). Rata-rata tinggi busa pada formula kontrol 57,3 mm, formula 2% (67 mm), formula 2,5% (67,3 mm), formula 3% (75 mm). Seluruh sediaan sabun padat yang dihasilkan homogen, memenuhi persyaratan dan stabil selama penyimpanan.Kesimpulan penelitian ekstrak etanol serai (Cymbopogon citratus) yang diperoleh dengan menggunakan metode maserasi ultrasonik dapat dijadikan sediaan sabun padat dan berdasarkan hasil evaluasi fisik sediaan sabun padat ekstrak etanol serai yang telah dilakukan pada konsentrasi 0%, 2%, 2,5%, dan 3% semua hasil yang diperoleh memenuhi persyaratan sediaan sabun padat. Namun, pada uji hedonik sediaan yang paling banyak disukai adalah konsentrasi 3%.</p> Irsa Saragih Ismedsyah Ismedsyah Antetti Tampubolon Masrah Masrah Copyright (c) 2026 Jurnal Farmasi FARMAKES 2026-09-01 2026-09-01 1 2 EVALUASI PELAKSANAAN PENYIMPANAN OBAT DI INSTALASI FARMASI KABUPATEN DELI SERDANG https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes/article/view/2743 <p>Penyimpanan obat merupakan bagian penting dalam menjaga mutu, stabilitas, keamanan, dan efektivitas obat selama proses penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan penyimpanan obat di Instalasi Farmasi Kabupaten Deli Serdang berdasarkan standar kefarmasian.Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan observasi langsung menggunakan lembar checklist terhadap indikator penyimpanan obat, meliputi suhu penyimpanan, kelembaban dan ventilasi, penataan obat, penerapan FIFO dan FEFO, kebersihan ruang, keamanan penyimpanan, penyimpanan obat khusus, serta pemantauan obat kedaluwarsa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan penyimpanan obat di Instalasi Farmasi Kabupaten Deli Serdang sebagian besar telah memenuhi standar kefarmasian. Namun, terdapat satu indikator yang belum sepenuhnya memenuhi persyaratan, yaitu pengaturan kelembaban ruang penyimpanan. Meskipun demikian, indikator-indikator lainnya seperti pemantauan suhu, penataan jenis obat, penerapan sistem FIFO dan FEFO, kebersihan ruangan, keamanan, serta penyimpanan obat khusus telah terlaksana dengan sangat baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pelaksanaan penyimpanan obat di Instalasi Farmasi Kabupaten Deli Serdang secara umum sesuai dengan standar penyimpanan obat berdasarkan Permenkes Nomor 72 Tahun 2016.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Evaluasi, Penyimpanan obat, Instalasi Farmasi.</p> Suci Amelia Ramadhani Masniah Masniah Jhonson P Sihombing Maya Handayani Sinaga Copyright (c) 2026 Jurnal Farmasi FARMAKES 2026-09-01 2026-09-01 1 2 ANALISIS FAKTOR RESIKO PENYAKIT GINJAL KRONIS PADA PASIEN HEMODIALISIS RSUD. DR. R.M DJOELHAM BINJAI https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes/article/view/2748 <p>Penyakit ginjal kronis merupakan penyakit tidak menular yang menjadi faktor utama penyebab kematian didunia. Terdapat beberapa faktor penyebab PGK yaitu riwayat hipertensi dan diabetes melitus, faktor gaya hidup, serta faktor biologis. Data statistik yang diperoleh dari badan statistika Kota Binjai tahun 2023 menunjukkan bahwa pada tahun 2023 RSUD Dr. RM. Djoelham Binjai terdapat 101 kasus pasien yang terdiagnosa menderita PGK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor resiko yang berhubungan dengan penyakit ginjal kronis pada pasien hemodialisis di RSUD Dr.R.M Djoelham Binjai.. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional, dengan menggunakan desain cross sectional, melibatkan 50 pasien dengan menggunakan total sampling. Data bersumber dari data rekam medis pasien kemudian dianalisis dengan menggunakan uji chi-square. Hasil analisis univariat diperoleh sebagian besar 32 (64,0%) stadium 5, jenis kelamin laki laki sebanyak 28 (56,0%), ada riwayat hipertensi sebanyak 31 (62,0%), ada riwayat DM sebanyak 29 (58,0%), tidak obesitas sebanyak 36(72,0%), tidak ada riwayat keluarga sebanyak 34 (68,0%), usia &gt; 56 tahun sebanyak 29 (58,0%) . Hasil analisis bivariat penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin (p 0,015), DM (p 0,008), hipertensi (p 0,012), obesitas (p 0,046), riwayat keluarga (p 0,226), Usia (p 0,028). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, riwayat DM, riwayat hipertensi, obesitas dan usia dengan stadium PGK. Tetapi Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat keluarga dengan stadium PGK</p> Najwaa Aulia Masrah Masrah Nadroh br Sitepu Zulfikri Zulfikri Copyright (c) 2026 Jurnal Farmasi FARMAKES 2026-09-01 2026-09-01 1 2 FORMULASI SEDIAAN BLUSH ON CREAM MENGGUNAKAN EKSTRAK KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) SEBAGAI PEWARA ALAMI https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes/article/view/2756 <p>Kayu secang (<em>Caesalpinia sappan</em> L.) mengandung senyawa brazilin yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pewarna alami pada sediaan kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak kayu secang sebagai pewarna alami dalam formulasi blush on cream serta menentukan konsentrasi ekstrak yang menghasilkan karakteristik fisik terbaik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan empat formula, yaitu F0 (tanpa ekstrak), F1 (ekstrak 3%), F2 (ekstrak 6%), dan F3 (ekstrak 9%). Sediaan dievaluasi melalui uji organoleptis, homogenitas, pH, daya oles, iritasi, stabilitas, dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula menghasilkan sediaan yang homogen, mudah dioleskan, tidak menimbulkan iritasi, serta memiliki pH 6,2–6,7 yang sesuai dengan pH kulit. Selama penyimpanan 28 hari, seluruh formula tetap stabil tanpa mengalami pemisahan fase, meskipun tekstur menjadi lebih padat sejak hari ke-7. Formula F3 dengan konsentrasi ekstrak 9% memberikan warna paling intens dan memperoleh tingkat kesukaan tertinggi. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak kayu secang dapat diformulasikan sebagai pewarna alami dalam sediaan blush on cream, dengan formula F3 sebagai formula terbaik karena menghasilkan warna yang optimal serta memenuhi parameter evaluasi fisik dan stabilitas.</p> Yuyun Hutasoit Antetti Tampubolon Hilda S Herman Rosnike Merly Panjaitan Copyright (c) 2026 Jurnal Farmasi FARMAKES 2026-09-01 2026-09-01 1 2 EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes/article/view/2757 <p>Daun sirih hijau ( Piper betle L.) merupakan tumbuhan obat yang diketahui memiliki kandungan senyawa kimia aktif seperti steroid, tanin, flavonoid, saponin, fenol, alkaloid, dan minyak atsiri yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun sirih hijau ( Piper betle L.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus serta menentukan konsentrasi ekstrak yang paling optimal. <br>Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan desain Posttest Only Control Group Design. Ekstraksi daun sirih hijau diekstrak menggunakan metode maserasi ultrasonik dengan pelarut etanol 96%. Uji efektivitas ekstrak etanol daun sirih hijau dilakukan menggunakan metode difusi cakram pada media Mueller Hinton Agar (MHA) dengan konsentrasi ekstrak 5%, 10%, dan 15%, serta menggunakan vancomycin sebagai pembanding.<br>Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sirih hijau mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus pada seluruh konsentrasi yang diuji. Rata-rata diameter zona hambat pada konsentrasi (5% sebesar 6,26 mm), (10% 13,13 mm), dan (15% 14,18 mm), sedangkan vancomycin menghasilkan zona hambat sebesar 20,87 mm dan aquadest tidak menunjukkan zona hambat. <br>Kesimpulan penelitian ekstrak etanol daun sirih hijau ( Piper betle L) efektif menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus pada konsentrasi ekstrak 15% dengan rata-rata zona hambat sebesar 14,18 mm sebagai konsentrasi paling optimal dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus.</p> Syakira Azura Azmi Ismedsyah Ismedsyah Masniah Masniah Masrah Masrah Copyright (c) 2026 Jurnal Farmasi FARMAKES 2026-09-01 2026-09-01 1 2 FORMULASI SEDIAAN BODY LOTION DARI EKSTRAK ETANOL BROKOLI (Brassica oleracea L. var. italica) https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes/article/view/2761 <p>Brokoli <em>(Brassica oleracea L. var. italica)</em> merupakan sumber senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenolik, serta vitamin A, C, dan E yang berperan dalam menjaga kelembapan dan elastisitas kulit. Potensi ini mendukung pemanfaatan ekstrak etanol brokoli sebagai bahan aktif alami dalam formulasi kosmetik pelembap. Penelitian dilakukan dengan rancangan eksperimental menggunakan tiga konsentrasi ekstrak (2 g, 3 g, dan 4 g) untuk menghasilkan sediaan <em>Body Lotion</em>. Evaluasi meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, viskositas, stabilitas, serta uji iritasi dan kesukaan panelis. Hasil menunjukkan seluruh formula memenuhi standar fisik dan stabilitas, memiliki pH sesuai kulit, daya sebar baik, viskositas sesuai syarat, serta stabil selama penyimpanan. Uji hedonik menegaskan bahwa semua formula disukai, sementara uji iritasi tidak menimbulkan reaksi negatif. Dengan demikian, ekstrak etanol brokoli terbukti dapat diformulasikan menjadi <em>Body Lotion</em> yang stabil, aman, dan berpotensi dikembangkan sebagai produk pelembap alami untuk mendukung kesehatan kulit.</p> Rizky Nafilah Adhisty Nurpermatasari Antetti Tampubolon Maya Handayani Sinaga Copyright (c) 2026 Jurnal Farmasi FARMAKES 2026-09-01 2026-09-01 1 2 KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIHIPERTENSI DITINJAU DARI PENGETAHUAN DAN SIKAP PASIEN https://ojs.poltekkes-medan.ac.id/farmakes/article/view/2782 <p>Hipertensi merupakan kondisi tekanan darah tinggi yang menetap dan menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Jumlah kunjungan pasien hipertensi di salah satu puskesmas di Kabupaten Tapanuli Selatan meningkat tajam dari 425 kunjungan pada tahun 2023 menjadi 819 kunjungan pada tahun 2024, sehingga kepatuhan pasien dalam menjalani terapi menjadi perhatian penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan kepatuhan minum obat antihipertensi pada pasien hipertensi. Penelitian observasional dengan desain cross-sectional ini dilakukan terhadap 71 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada pada kategori cukup baik (65,58%), sikap dalam kategori baik (77,18%), dan kepatuhan minum obat dalam kategori baik (79,40%). Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat (p = 0,000) dan antara sikap dengan kepatuhan minum obat (p = 0,009). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap memiliki hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi, sehingga edukasi kesehatan yang berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan sikap pasien terhadap pengobatan hipertensi.</p> Jannah Hartabariski Annisa Brutu Zulfikri Zulfikri Jhonson P Sihombing Zulfa Ismaniar Fauzi Copyright (c) 2026 Jurnal Farmasi FARMAKES 2026-09-01 2026-09-01 1 2